Islam Liberal, Pluralisme Agama & Diabolisme Intelektual

Islam Liberal, Pluralisme Agama & Diabolisme Intelektual

Islam Liberal, Pluralisme Agama & Diabolisme Intelektual

Islam Liberal, Pluralisme Agama & Diabolisme Intelektual
Penulis : Adian Husaini
Ukuran buku : 14 cm x  21 cm tebal : xviii+237 halaman
Sampul depan : Soft Cover
Penerbit : Risalah Gusti – Surabaya
ISBN : 979-556-160-x
Harga Rp. 36.500,-

sinopsis
“Semua agama sama, semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.”
itulah salah satu pemikiran dari penganut paham Pluralime Agama dan Liberalisme Islam. Paham semacam itu jelas menolak kebenaran eksklusif akidah islam, dan mempersamakan Islam dengan dengan semua agama.
Karenanya, Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasional (Munas)nya ke-7, sudah tepat merumuskan dengan ringkas fenomena pengembangan paham ini dan status hukumnya, sebagai paham yang bertentangan dengan ajaran islam dan haram bagi kaum Muslim untuk memeluk paham semacam itu.
Paham yang mengakui semua agama, bisa dikalahkan paham syrik– yang tentu saja tidak dapat hidup dengan damai bersama Tauhid. Dikatakan syirik karena dia mencampur aduk yang haq dan yang batil, dan menodai Tauhid Islam.

Keresahan atas gagasan-gagasan Islam liberal telah lama dirasakan banyak pihak. Dalam Muktamar NU di Boyolali, direkomendasikan penolakan paham liberalisme dan ekstrimisme Islam. Di kalangan Muhammadiyah, sikap anti Islam liberal ditunjukkan dengan tidak dipilihnya Abdul Munir Mulkhan dan Amin Abdullah dalam jajaran PP Muhammadiyah, karena keduanya dinilai berpikiran liberal.

Di tahun 2001, sejumlah kalangan memberikan reaksi penolakan atas gagasan “penyegaran pemikiran Islam” yang disuarakan oleh Ulil Abshar Abdalla. Bahkan Ulil sempat difatwa mati oleh sejumlah ulama yang tergabung dalam Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI).

Dan puncak dari penolakan tersebut terjadi saat MUI (majlis Ulama Indonesia) mengadakan Musyawarah Nasional VII di Jakarta, Juli 2005. dalam fatwa yang menyatakan paham sekularisme, liberalisme dan sekularisme Islam sebagai sesat tersebut seakan menjadi gong peperangan terhadap kelompok Islam liberal.

Pertarungan wacana antara Islam liberal dengan penentangnya telah lama berlangsung di negeri ini. Meski demikian patut disayangkan karena sikap-sikap penolakan tersebut selama ini masih terkesan emosional dan apologetik.

Namun akhir-akhir ini pemikiran Islam Indonesia menemukan dinamikanya dengan lahirnya sekelompok intelektual muda yang resah terhadap fenomena liberalisme Islam. Berbeda dengan kelompok serupa yang lain, intelektual muda ini mencoba mengcounter wacana liberalisme Islam sebagai seorang ilmuan dengan sikap ilmiahnya.

Sebagaimana kebanyakan aktivis Islam liberal yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan keakraban dengan metodologi kajian agama kontemporer, intelektual tersebut juga berpendidikan tinggi dan akrab dengan teks-teks modern. Kebanyakan mereka menempuh studi MA atau Ph.D di Malaysia. Jika Islam liberal memiliki ikon Ulil Abshar Abdalla, kelompok Malaysia ini menjadikan Adian Husaini sebagai ikonnya.

Buku ini lahir dari ramainya perdebatan seputar fatwa MUI di atas. Penulis yang sedang menulis disertasi di ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) Malaysia melihat adanya ketidakjujuran yang dilakukan aktivis Islam liberal dalam menanggapi fatwa MUI.

Seperti pendefinisian pluralisme agama yang diberikan oleh Ulil Abshar dan Syafii Anwar sebagai sikap menghargai realitas perbedaan dalam masyarakat (mutual respect). Adian menilai kedua pemikir liberal tersebut mencoba mengelabui masyarakat dengan mengaburkan makna sebenarnya dari pluralisme agama.

Dengan mengutip gagasan pemikir pluralis terkenal, John Hick, tentang tiga sikap beragama, Adian menjelaskan bahwa pluralisme agama sikap menyatakan semua agama sebagai jalan-jalan yang sah dan benar menuju Tuhan. Pluralisme mengajarkan sikap mengakui adanya kebenaran dalam setiap agama. Seorang pemeluk agama tidak berhak mengklaim agamanya sebagai satu-satunya agama yang benar atau yang paling benar.

Sikap ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari sikap inklusivisme agama dan kritik atas sikap eksklusif. Inklusivisme berarti pengakuan adanya kebenaran di agama lain, tetapi tidak sesempurna kebenaran yang dimiliki agama yang dianutnya. Sebaliknya, sikap eksklusif adalah klaim kebenaran mutlak hanya terdapat dalam satu agama, agama lain dianggap sesat dan tidak menyelamatkan.

Atas ketidakjujuran inilah Adian menilai pemikir liberal sebagai intelektual diabolis. Intelektual diabolis dicirikan oleh beberapa hal, pertama, selalu membangkang dan membantah. Meskipun mereka kenal, paham dan mengetahui kebenaran, tetapi intelektual model ini selalu membantah dan mencari argumen untuk menguatkan opininya. Sikap ini disebut al-‘inadiyah.

Kedua, intelektual diabolik bersikap sombong (takabbur), yaitu sikap menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Ciri kedua ini ditunjukkan mereka dengan menyatakan orang-orang yang berpegang pada al-Qur’an dan hadis sebagai dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain-lain. Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, relativistic dan skeptis justru dianggap sebagai pembaharu, kritis, dan sebagainya.

Ketiga adalah pengaburan dan penyembunyian kebenaran. Cendekiawan diabolis bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi mereka sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Dengan berbagai argumennya, kesalahan dijadikan seolah-olah benar, dan kebenaran dikaburkan sehingga membuat masyarakat menjadi bingung.

Meski nuansa emosional dan apologetik masih tampak di tulisan Adian Husaini ini, tetapi buku ini patut mendapatkan apresiasi bagi pengamat dinamika pemikiran Islam Indonesia kontemporer. Setidaknya buku ini menjadi tanda semakin dewasanya umat Islam dalam menyikapi perbedaan. Sudah sepatutnya setiap perbedaan pemikiran dituangkan dalam karya tulis sehingga masyarakat bisa memberikan penilaian sendiri dan bisa menjadi dokumen yang akan dipelajari di masa mendatang.

Tradisi perdebatan melalui karya tulis sebenarnya memiliki akar yang kuat dalam peradaban Islam. Di masa Islam klasik, perdebatan tentang filsafat parepatetik Islam antara al-Ghazali (bapak ortodoksi Islam) dan Ibnu Rusyd (pemikir rasionalis Islam) melahirkan karya mereka yang cukup monumental; al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah dan Ibnu Rusyd dengan Tahafut al-Tahafut-nya. Mungkin terlalu berlebihan bila kita menginginkan lahirnya al-Ghazali dan Ibnu Rusyd baru dari perdebatan yang selama ini berlangsung di negeri ini, tetapi setidaknya jalan yang ditempuh Adian Husaini dapat menjadi titik awal ke arah impian itu.

sumber :

http://indrayogi.multiply.com/reviews/item/104

————————————————oOo—————————————————–

Berikut adalah Fatwa MUI yang menyatakan paham Pluralisme yang diusung kelompok Islam Liberal sesat.

KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONEISA
Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005
Tentang
PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1246 H. / 26-29 Juli M.;

MENIMBANG :

1. Bahwa pada akhir-akhir ini berkembang paham pluralisme agama, liberalisme dan sekularisme serta paham-paham sejenis lainnya di kalangan masyarakat;
2. Bahwa berkembangnya paham pluralisme agama, liberalisme dan sekularisme serta dikalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan sehingga sebagian masyarakat meminta MUI untuk menetapkan Fatwa tentang masalah tersebut;
3. Bahwa karena itu , MUI memandang perlu menetapkan Fatwa tentang paham pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama tersebut untuk di jadikan pedoman oleh umat Islam.

MENGINGAT :

1. Firman Allah :
Barang siapa mencari agama selaian agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan terima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (QS. Ali Imaran [3]: 85)

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam (QS. Ali Imran [3]: 19)

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS. al-Kafirun [109] : 6).

Dan tidaklahpatut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. al-Azhab [33:36).

1. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. al-Mumtahinah [60]: 8-9).

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan. (QS. al-Qashash [28]: 77).

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta. (terhadap Allah). (QS. al-An’am [6]: 116).

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (Q. al-Mu’minun [23]: 71).

1. Hadis Nabi saw :
1. Imam Muslim (w. 262 H) dalam Kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan sabda Rasulullah saw :
”Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorangpun baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni Neraka.” (HR Muslim).
2. Nabi mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non-Muslim, antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi yang beragama Nasrani, al-Najasyi Raja Abesenia yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang beragama Majusi, dimana Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam. (riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat al-Kubra dan Imam Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari).
3. Nabi saw melakukan pergaulan social secara baik dengan komunitas-komunitas non-Muslim seperti Komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar dan Nasrani yang tinggal di Najran; bahkan salah seorang mertua Nabi yang bernama Huyay bin Aththab adalah tokoh Yahudi Bani Quradzah (Sayyid Bani Quraizah). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

MEMPERHATIKAN : Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII VII MUI 2005.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT.

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG PLURALISME AGAMA DALAM PANDANGAN ISLAM
Pertama : Ketentuan Umum

Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan

1. Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanyasaja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.
2. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
3. Liberalisme adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnaah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.
4. sekualisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesame manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan social.

Kedua : Ketentuan Hukum

1. pluralism, Sekualarisme dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama islam.
2. Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme Sekularisme dan Liberalisme Agama.
3. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat islam wajib bersikap ekseklusif, dalam arti haram mencampur adukan aqidah dan ibadah umat islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.
4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah social yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan social dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.

Ditetapkan di: Jakarta
Pada tanggal: 22 Jumadil Akhir 1426 H.
29 Juli 2005 M

MUSYAWARAH NASIONAL VII
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa Ketua, Sekretaris,

K.H. MA’RUF AMIN HASANUDIN

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: